Jumat, 27 September 2013
Selasa, 20 Agustus 2013
Puisi (lagi --")
I won’t
forget
A chance
I’ve ever met
The time of
that bright night
When you accidently sat by
my side
Under the lim of the light
I was
trying to hide,
The feeling of my heart
Although I knew it’s still too hard
We’re
drowned in the crowd
With no
word to be told
While the music beatin’
so loud
There no story that I
thought
So I tried to break the
silence
We said some sentences
You present some
ignorance
And we back again in silence
Senin, 08 Juli 2013
Another Poem
What does a friendship mean to me?
It’s not being neglected or doing neglect
It’s about being respected and giving respect
It’s not something to show so that people will know
We don’t have to always stick together
Yet we shouldn’t hurt each other
Once I had close friends, (that’s what I sense)
What a pity, sometimes, my friends are too busy
They’re looked like forgetting me
But, I take it easy, I wouldn’t get dizzy
Friendship it’s not a membership
So, I don’t want to be trapped with certain persons
And going along without reasons
I can make friends with anyone, anywhere, and anytime
Friends are a bunch of joy; they are not a box of toy
I can’t always keep their faces and tight them as
laces
I can’t make friends stay still; they have a life to
feel
Whenever they leave me alone,
I just look around
World is wide as far as sight
Without friends to hang on, my show must go on.
So what else can I say?
I still have a lot of game to play and I’ll continue my way
Kamis, 02 Mei 2013
Sabtu, 06 April 2013
Ketika ALLAH Mengirimkan Al-Kafirun ke Rumah Kami..
Awal Kemunculan.
Sejak kecil, saya
selalu membaca, mendengar, atau menonton kisah-kisah nabi. Melalui kisah nabi
saya selalu menemukan suri tauladan dan hikmah-hikmah yang ,InsyaALLAH, dapat
memperkuat keimanan saya dari hari ke hari, amin.
Dalam kisah-kisah
tersebut selaluuuu saja ada tokoh antagonis yang bikin gregetan. Jadi, kadang
waktu masih kecil, mendengar kisah-kisah nabi/rasul tak ubahnya nonton film
superhero. Ada jagoannya, ada musuhnya. Tokoh itu tiada lain tiada bukan adalah
sindikat Al
Kafirun. Seperti yang kita ketahui, dakwah dan eksistensi para nabi/rasul tidak selalu
diterima dengan hangat. Acapkali, muncul golongan yang menolak bahkan cenderung
offensive. Tidak jarang pula,
perbuatan mereka ini meresahkan dan merugikan orang-orang di sekitarnya. Contohnya saja masyarakat jahilyah
kala itu (ya, sepertinya sih begitu --a).
Bagi
saya, perjuangan dakwah para nabi itu MasyaALLAH! Terutama perjuangan
Rasulullah SAW, itu luar biasa. Ketabahan, kesabaran,
dan keyakinan beliau yang bisa membuatnya keep struggling with total power.
Subhanallah, menakjubkan.
Namun, sejauh ini,
semua itu hanya termaktub dalam lembaran-lembaran kisah dan agaknya mustahil
saya temui sendiri.Hingga tiba suatu masa, ALLAH mencoba keluarga kecil saya.
ALLAH Azza wa Jalla mengirimkan Al Kafirun itu ke tngah-tengah kami. Delivery
service langsung cuzzzz ke rumah kami.
Al Kafirun dari
seberang samudra, entah dari alam macam apa dia datang. Tiba-tiba eng ing eng.... -..-
Ia tidak percaya Tuhan, sudah pasti ia juga tidak punya agama. Dia nggak
paham dengan mindset orang-orang beragama (dan saya nggak paham sama mindset
dia, impas).
Menurutnya, agama itu hanya rekaan
manusia dan tak ubahnya belenggu kehidupan. Aturannya rempong, tidak masuk
akal, dan semacam buang-buang waktu. Ya, oke, secara umum itu haknya untuk
memilih keyakinan atau tidak yakin akan keyakinan. Suka-suka dia mau jadi
agnostic,atheis,atau apa pun itu judulnya. Tapi yang nyebahi udah Al-Kafirun
nyolot lagi!
Saat
itu yang melintas di benak saya adalah “Ya udah siiiiiih, urusane dhewe-dhewe,
lha wong sing nglakoni wae hepi, kok dadi kono sing mbingungi lho,”
Tapi, setelah dipikir lagi, saya harus bisa kasih
jawaban yang logis dan baik dong. Ya bagaimana pun juga ini keyakinan yang
harus saya perjuangkan. Agama tidak maen-maen, boi! Apalagi dia tanya,
intinya: Ngapain sih beragama, Islam
khususnya, kan aturannya aneh-aneh? *Seketika pengen saya kapyuk mukanya pakai
air accu. Astaghfirullah*
Saya bilang, agama bagi saya pribadi
adalah kebutuhan rohaniah. Manusia itu tidak hanya butuh materi tetapi juga
kebutuhan spiritual seperti rasa bahagia, kedamaian, kasih sayang dan juga the
presence of superholly power beyond
yourself yakni TUHAN. Seharusnya makin manusia itu berpikir semakin ia sadar
betapa kerdil dan pandir dirinya di dunia ini, bukanya makin pongah. Serasional
apa pun kita, banyak hal-hal yang tidak bisa kita terangkan secara science.
Sekarang, saya tanya deh, how can you’re still alive until right now? How do
you breath? How do you move your body? And how do you take a shit?! It’s a great
blessing from God. Berkah. People alive as of the soul, ruh, so that’s not
about heart that beats, blood that circulates, or lungs that breath. Kalo cuma
begitu, orang sekarat yang udah dikecengin sama Izrail juga bisa kalau dipasang
respirator, pacu jantung, infus dll. Nggak bakal keliatan mati, tapi ya cuma
gitu. Hidup itu lebih berarti braay, tidak sekadar jantung berdetak, darah
mengalir atau napas kembang kempis. There’s alot of stuff that can’t be
explained by science, but religion does it very well.
Hidup itu rencana Tuhan, isinya
pengabdian. Dalam Al Quran dijelaskan: Wamaa kholaqtuljinna wal insa illa
liya’buduun (Addzariyat 56). Manusia dan Jin diciptakan untuk beribadah, untuk
menyembah Tuhan pemciptanya. Berarti, sudah kodrat manusia untuk beragama, beribadah,
meyakini keberadaan sang Khalik.
Agaknya, perjuangan ini akan berjalan
cukup lama. Ya Rabb, Yaa shahibbul
‘arsy, kuatkan kami sekeluarga. Saya dan keluarga harus lebih dalam belajar
agar bisa menjawab semua pertanyaan absurdnya. Menurut Bapak, wajar dia begitu,
dia ‘kan belum tahu. Tugas kita adalah ngandhani dia. Ya ada benarnya juga.
Meskipun demikian, kami mencoba mengambil
hikmah. Setidaknya, kedatangannya membuat kami makin mendekatkan diri kepada
ALLAH. Mau tidak mau kami harus beribadah
lebih taat lagi. Belajar agama
yang lebih giat lagi agar bisa menjawabi dengan cerdas dan tangkas. Minimal,
dia melihat bahwa orang beragama, khususnya kami yang muslim ini, adalah
orang-orang baik, rahmatan lil ‘alamin. Amin.
Selasa, 26 Maret 2013
My Daddy..
My daddy got a funny tummy. It's always tubby 'though empty.
I said "Daddy you're a grizzly" but he never been angry.
He sang inanely "I'm really really happy although it's slightly silly. So don't get dizzy, sweety, I'am just a cheerfull honey bee!"
Life is very tricky, heavy, kinky but you'll be pretty more easy to be happy as you aren't edgy to early.
Kamis, 21 Februari 2013
Esai Sosiologi jaman SMA (:
Kemajemukan
dalam Semangat Kebangsaan
Sekar Hayati
Pending
di khatulistiwa tanahku Indonesia..
Ribu
pulaunya ragam sukunya..
Satu jiwa
raganya..
Indonesia..Indonesia
Aku
bangga menjadi anak Indonesia!
Tahu potongan syair lagu di atas?Ya,
lirik sederhana yang diciptakan sang Maestro, A.T Mahmud, memang menggugah anak
Indonesia untuk berbangga akan tanah airnya. Bangga akan kekayaan alamnya,
bangga akan keberagamannya, dan bangga akan kesatuan jiwanya. Semangat
persatuan yang bergelora dalam perbedaan sengaja ditanamkan pada generasi muda
penerus bangsa.
Hidup di lingkungan yang majemuk
adalah suatu tantangan tersendiri bagi suatu bangsa. Latar belakang yang
beraneka turut menciptakan kultur-kultur hidup yang berbeda-beda. Kultur-kultur
yang berbeda ini kadang ditumpangi dengan kepentingan-kepentingan yang berlainan
dan tak jarang berlawanan.
Pada awalnya, menurut Dr. Nasikun,
keberagaman ini terbentuk akibat letak dan bentuk Indonesia yang berpulau-pulau
dan berjauh-jauhan. Kontak yang sulit terjadi antarpenduduk di beda area ini
menimbulkan pola-pola hidup yang berbeda, termasuk adat budaya. Kondisi ini
bahkan dapat menciptakan rasa tidak saling memiliki. Bagaimana tidak? Menyadari
keberadaan satu sama lain saja belum tentu. Selebihnya, faktor lokasi yang diapit
dua samudra membuka peluang bagi bangsa lain untuk masuk ke wilayah Nusantara
dan memberi pengaruh pada kehidupan masyarakat pribumi. Pengaruh itu mulai dari
yang sederhana sampai yang kompleks. Mulai dari cara berpakaian sampai
perkawinan. Seiring perjalanan waktu, keberagaman pun terbentuk dan terus
berkembang hingga detik ini. Spektrumnya pun meluas. Bukan hanya melulu tentang
suku, agama, etnis, kewilayahan, tetapi juga merambah ranah ideologi, opini,
politik, hingga orientasi ekonomi.
Lalu bagaimana bila kemajemukan ini
terjadi dalam suatu negara yang notabenenya harus bersatu? Tentu bukan perkara
remeh, mengingat perbedaan itu sangat riskan menuai konflik. Masih ingatkah
dengan beberapa kerusuhan antargolongan yang terjadi di beberapa wilayah di
tanah air? Belum lagi, muncul komunitas-komunitas ideologi tertentu yang ingin
merombak sistem pemerintahan kita saat ini. Malangnya, manuver-manuver yang
dilancarkan justru menimbulkan keresahan masyarakat.
Furnival yang pernah menganalisis
Indonesia pada era kolonial mengemukakan bahwa kemajemukan diindikasikan dengan
tidak adanya kesamaan visi (common will) antargolongan yang ada kala itu.
Bangsa Belanda menempatkan dirinya dalam koridor kepentingan pekerjaan semata.
Sementara warga keturunan asing hanya berjibaku dengan segmen-segmen
perekonomian. Kalangan Bumiputera sendiri hanya berkonsentrasi pada
kapasitasnya sebagai kalangan kasta bawah. Ketiga golongan, diungkapkan
Furnival, tetap mempertahankan pola pikir, tindakan dan rasa masing-masing. Hal
inilah kemudian yang menciptakan lingkungan tidak padu. Kalangan yang tidak saling
membaur dan “memenjarakan diri” dalam zona masing-masing inilah yang
menimbulkan keberagaman berkonflik.
Maka dari itu, untuk menyatukan
kalangan-kalangan tersebut, perlu dimunculkan suatu pengikat yang dapat
menghubungkan masing-masing elemen. Masih menurut Dr. Nasikun, pengikat itu
dapat berupa konsensus mengenai nilai-nilai kemasyarakatan yang mendasar.
Konsensus atau kesepakatan memang diperlukan untuk membangun sebuah lingkungan
masyarakat yang terintegrasi. Seperti kita ketahui bersama, kesamaan paham akan
suatu fenomena akan lebih mudah membawa individu-individu yang berbeda untuk
menyatu. Contoh mudahnya yang dekat dengan kehidupan kita adalah label
Padmanaba bagi siswa-siswi SMAN 3 Yogyakarta. Siswa-siswi dengan latar belakang
budaya, agama, etnis, bahkan ideologi yang berbeda dan cenderung mengelompok
ini dapat menjadi solid akibat pemahaman akan ke-Padmanaba-an ini. Ada semacam
kesepakatan mengenai apa-apa saja yang termasuk dalam kaidah ke-Padmanaba-an
itu, lalu diyakini dan diaplikasikan. Dalam bidang yang lain, memang
kemajemukan tidak terelakkan, tetapi menyangkut nilai yang sama maka kesatuan
akan terwujud.
Selain itu keberadaan cross-cutting affiliation yang kemudian
mendukung tumbuhnya cross-cutting
loyalities. Cross-cutting loyalities yakni loyalitas yang silang menyilang
antaranggota masyarakat terhadap kelompok-kelompok atau satuan-satuan sosial di
mana mereka menjadi anggotanya. Meskipun termasuk dalam suatu kelompok, tidak
menutup kemungkinan anggota tersebut juga termasuk dalam suatu komunitas lain.
Misalnya saja seorang pegawai negeri yang juga tergabung dalam komunitas sepeda
gembira. Maka, solidaritas yang terbentuk bukan hanya antarpegawai negeri,
tetapi juga antarpecinta sepeda yang datang dari berbagai kalangan ini.
Melalui kedua landasan tersebut dapat
disimpulkan bahwa kemajemukan suatu bangsa dapat terintegrasi. Indonesia dapat
menjadikan perbedaan yang terbentang justru dapat dijadikan pengikat yang kuat.
Apalagi Indonesia memiliki spirit kebangsaan Bhineka Tunggal Ika. Sekalipun
berbeda-beda tetaplah satu. Satu nusa, satu bangsa, satu rasa, dan satu cita.
Ribu pulaunya ragam sukunya
Satu jiwa raganya..
Langganan:
Postingan (Atom)