"Ngapain lo gampar anak buah gue?"
"Goblok banget nih anak buah lo! Bego!"
"Ye biarin aje, dia emang pengen goblok, suka-suka die!"
Potongan dialog di atas saya saksikan di sebuah film yang sangat inspirasional bagi saya, Alangkah Lucunya Negeri Ini. Pembicaraan antara dua copet cilik ini memang tampak sederhana dan biasa saja. Namun, sebenarnya ini memberi sebuah pencerahan bagi kita untuk merenung sejenak..
(space untuk merenung)
Sudah barang tentu kita sangat familiar dengan kata bijak yang satu ini : Hidup adalah pilihan.
Macam-macam penafsiran dari kata bijak tersebut.
1) Hidup adalah pilihan yang artinya memilih untuk hidup, bukannya mati. Kita mengalahkan opsi untuk mati (karena kita bisa saja mempercepat takdir Tuhan dengan aneka cara) dengan memilih untuk tetap hidup.
2)Hidup adalah pilihan, artinya hidup ini dipenuhi dengan pilihan-pilihan jalan. Mau kita apakan hidup yang kita miliki ini. Apa yang bisa kita lakukan dalam hidup ini, apakah keburukan ataukah kebaikan. Jadi penjahat atau penjahit. Termasuk memilih untuk jadi goblok seperti dialog pembuka di atas.
3)Hidup adalah pilihan, artinya tidak memilih sama dengan tidak hidup. Tanpa pilihan ibarat terombang-ambing dalam sebuah bidang kosong yang tidak terdeskripsikan.
Ketiganya adalah substansi dasar dari memilih kehidupan dan menghidupkan pilihan. Hidup tidak bisa dipisahkan dari pilihan karena untuk hidup pun sebuah pilihan. Hidup harus memilih sebab hidup terdiri dari pilihan-pilihan. Dan hidup dan pilihan yang tidak terkoneksi adalah sebuah ilusi.
"Setelah aku lulus sarjana, Luk, baru aku tahu kalau pendidikan itu nggak penting,"
"Makanya pendidikan itu penting, Bang. Kalau Abang nggak berpendidikan, mana mungkin tahu kalau pendidikan itu nggak penting,"
(Syamsul dan Muluk, Alangkah Lucunya Negeri Ini)
Minggu, 22 Mei 2011
Kamis, 19 Mei 2011
Menjadi Jahiliyah..
Belum lama ini, saya benar-benar mencermati setiap detail film Sang Pencerah. Terlepas dari latar belakang saya yang pernah menjadi bagian dari pergerakan Kyai Dahlan, saya terkesan. Yang mengesankan bagi saya memang bukan kesan teknis penggarapan film tersebut. Saya bukanlah pengamat sinema yang nglothok masalah teknis penggarapan. Saya tidak peduli gambar itu diambil dengan kamera jenis apa, dari angle berapa derajat, efek dimensi bagaimana, atau bahkan, para pemain itu diberi makan nasi kuning, nasi uduk, atau nasi goreng. Namun, saya bukan pula tipikal penonton yang nyenuk nonton karena ingin liat paras bagus para pemainnya, Slamet Rahardjo misalnya (?)...
Saya murni konsumen yang tau jadi. Tetapi, bagaimana pun juga sebagai konsumen yang tahu diri (tahu, diri ini sudah bayar; tahu, diri ini membutuhkan hiburan dan tahu, diri ini tidak ingin dirugikan), saya mencoba untuk berpikir. Saya berpikir : Apakah Kyai Dahlan itu benar-benar sang Pencerah? Atau ralat, benarkah tugas sang Pencerah telah usai seiring berdirinya Muhammadiyah?
Saya sangsi.
Sampai akhir zaman nanti, namanya kejahiliyahan tetaplah berkibar di Bumi kagungan Gusti kang Mahasuci ini. Kejahiliyahan bukan hanya monopoli Kanjeng Rasul atau mubaligh-mubaligh sekaliber Kyai Dahlan. Seperti halnya globalisasi, kejahiliyahan juga menjadi suatu variabel universal. Jahiliyah bukan hanya tekotak pada segi akidah dan fiqih. Jahiliyah bahkan merasuk dalam sisi paling dasar dari sebuah keyakinan, arti dari keyakinan itu sendiri.
Kalau hanya sekadar yakin, semua orang juga bisa yakin. Yakin, kalau bakal menang lotere (padahal pasang aja enggak), yakin kalau paras kita lebih oke dari selebriti Hollywood, yakin kalau SBY tu nggambleh jadi presiden, mendingan kita gantiin saja, dan aneka keyakinan lainnya.
Tetapi, itu sekadar yakin yang tidak berdasar. Kalaupun punya dasar, ya dibikin-bikin sendiri, dipaksa-paksa biar bisa diterima. Contoh tadi, hanyalah contoh yang sangat sederhana. Di dunia nyata nan fana ini, kejahiliyahan bahkan dapat merasuki elemen-elemen intelektualitas. Ranah yang dipijak bukan lagi masalah-masalah remeh temeh. Tidak jarang muncul golongan-golongan radikal, separatis, ingin mengibarkan panji-panji dalih agama yang justru tidak jauh dari mungkar.
Ironisnya, banyak naka muda kita yang terlalu naive memandang kehidupan. Mereka terlalu mudah menerima suatu hal baru, dan buruknya turut serta memaksakan hal tersebut. Maka muncullah doktrin.
Saya memang bukan orang sholeh, tapi saya juga tidak kafir. Saya tidak ingin disebut alim oleh sesama manusia, tidak ada gunanya. Predikat sholeh itu hanya bikin takabur, menutup mata, telinga, juga hati kita. Lihatlah para kyai di Kauman sebelum Kyai Dahlan. Sterotype ulama panutan telah meninggikan hati mereka. Merasa lebih wasis dibanding yang lain. Merasa lebih dekat dengan Gusti Pengeran (padahal belum keruan).
Dari rasa takabur ini, munculah idealisme-idealisme wagu. Semua diukur baju badan sendiri. Tidak mau melihat, tidak mau mendengar.
Selayaknya memang kita ini berpikir. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berpikir.
Saya murni konsumen yang tau jadi. Tetapi, bagaimana pun juga sebagai konsumen yang tahu diri (tahu, diri ini sudah bayar; tahu, diri ini membutuhkan hiburan dan tahu, diri ini tidak ingin dirugikan), saya mencoba untuk berpikir. Saya berpikir : Apakah Kyai Dahlan itu benar-benar sang Pencerah? Atau ralat, benarkah tugas sang Pencerah telah usai seiring berdirinya Muhammadiyah?
Saya sangsi.
Sampai akhir zaman nanti, namanya kejahiliyahan tetaplah berkibar di Bumi kagungan Gusti kang Mahasuci ini. Kejahiliyahan bukan hanya monopoli Kanjeng Rasul atau mubaligh-mubaligh sekaliber Kyai Dahlan. Seperti halnya globalisasi, kejahiliyahan juga menjadi suatu variabel universal. Jahiliyah bukan hanya tekotak pada segi akidah dan fiqih. Jahiliyah bahkan merasuk dalam sisi paling dasar dari sebuah keyakinan, arti dari keyakinan itu sendiri.
Kalau hanya sekadar yakin, semua orang juga bisa yakin. Yakin, kalau bakal menang lotere (padahal pasang aja enggak), yakin kalau paras kita lebih oke dari selebriti Hollywood, yakin kalau SBY tu nggambleh jadi presiden, mendingan kita gantiin saja, dan aneka keyakinan lainnya.
Tetapi, itu sekadar yakin yang tidak berdasar. Kalaupun punya dasar, ya dibikin-bikin sendiri, dipaksa-paksa biar bisa diterima. Contoh tadi, hanyalah contoh yang sangat sederhana. Di dunia nyata nan fana ini, kejahiliyahan bahkan dapat merasuki elemen-elemen intelektualitas. Ranah yang dipijak bukan lagi masalah-masalah remeh temeh. Tidak jarang muncul golongan-golongan radikal, separatis, ingin mengibarkan panji-panji dalih agama yang justru tidak jauh dari mungkar.
Ironisnya, banyak naka muda kita yang terlalu naive memandang kehidupan. Mereka terlalu mudah menerima suatu hal baru, dan buruknya turut serta memaksakan hal tersebut. Maka muncullah doktrin.
Saya memang bukan orang sholeh, tapi saya juga tidak kafir. Saya tidak ingin disebut alim oleh sesama manusia, tidak ada gunanya. Predikat sholeh itu hanya bikin takabur, menutup mata, telinga, juga hati kita. Lihatlah para kyai di Kauman sebelum Kyai Dahlan. Sterotype ulama panutan telah meninggikan hati mereka. Merasa lebih wasis dibanding yang lain. Merasa lebih dekat dengan Gusti Pengeran (padahal belum keruan).
Dari rasa takabur ini, munculah idealisme-idealisme wagu. Semua diukur baju badan sendiri. Tidak mau melihat, tidak mau mendengar.
Selayaknya memang kita ini berpikir. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berpikir.
Minggu, 17 April 2011
Lelakon
Dunia ini memang aneh dan hidup di dunia aneh itu lebih aneh lagi. Kini, zamannya zaman edan, hidup di zaman edan itu edan tenan. Semua tampak mudah, murah, melimpah. Sampai-sampai, keringat saja tak perlu tumpah apalagi darah. Orang kaya sudah banyak, otomatis yang congkak makin banyak, ya to? Orang tajir tak lagi segelintir, artinya makin banyak orang kikir, 'tul nggak? Pejabat, punya pangkat, gaji bermilyard-milyard, eh masih saja nekat ngembat uang rakyat. Sudah cantik masih disuntik plastik hasilnya....bikin mata mendelik sambil terkikik. Naik mercy, tasnya Gucci, bajunya Armani, plesirnya keluar negeri, waladah, hatinya masih dihiasi iri dengki srei. Ckckckck. Uang masuk kantong bisa bangun rumah gedong, tapi sayang, dosanya jadi bergentong-gentong. Owalah lah, lelakon Mula aja padha takon, urip iku kaya dakon dilakoni alon-alon kanthi waton dimen bisa kelakon yaiku lelakon. Dadi manungsa aja padha lali marang sangkan paraning dumadi pangajab urip ya mung suji pasrah bekti marang Gusti kang Mahasuci.
Kamis, 22 Juli 2010
Saya tidak ingin jadi penyihir. Anda?
Guru saya pernah bertanya kepada kami,
"Bila kalian diberi kesempatan untuk memilih sebuah, hanya sebuah, kekuatan magis, kekuatan macam apa yang ingin kalian miliki?"
Seluruh civitas akademika dalam kelas itu pun mulai mengembangkan sayap-sayap imajinasi mereka..
"Saya ingin punya sentuhan cinta," kata seorang mahasiswi di pojok ruang ragu-ragu,"saya ingin setiap orang yang saya sentuh akan mencintai saya,"
"Lalu," selidik sang Guru.
"Sehingga dunia akan dipenuhi dengan rasa cinta dan tidak ada rasa benci dan permusuhan," ia mulai menemukan kepercayaandirinya.
Pak Guru tersenyum,
"Begitukah? Jadi kau beranggapan dengan sentuhan cinta, kau akan membuat kedamaian?"
Sang mahasiswi mengangguk mantap.
"Sekarang cobalah kau bayangkan ketika semua orang kau sentuh, lalu semua orang mencintaimu," Guru itu melipat lengannya, seolah berpikir keras,"semua orang tentu ingin memilikimu,"
Mahasiswi itu mengangguk pelan,"Semua orang akan berusaha untuk memperoleh saya dan.."
"Dan..." Guru kami mencoba mencari jawaban.
"Dan saya justru menciptakan peperangan dalam hal yang....konyol"
"Kalau begitu, saya ingin punya sentuhan rahasia saja," seorang karyawan asuransi di tengah ruang memecah keheningan.
"Sentuhan rahasia?"
"Ya, Sir. Saya bisa tahu rahasia orang-orang di sekitar saya," katanya pongah.
"Apa sih rahasia itu?" Guru bertanya
"Ya biasanya sih hal-hal yang tidak ingin diketahui orang lain,"
"Kenapa?"
Karyawan itu nyengir, " Biasanya itu adalah aib, Sir. Atau..kebencian pada kita,"
"Apa yang kau dapatkan dari tahu kebencian orang kepada kita?"
"Betapa saya akan menemukan kebencian juga pada kehidupan saya," jawabnya pelan.
Saya mencoba menjawab,
"Sir, saya ingin punya sentuhan bahagia,"
Guru itu menaikkan sebelah alisnya,
"Saya ingin bisa membuat semua orang bahagia, tanpa rasa sedih, bimbang, khawatir,"
"Sehingga mereka lupa akan beban hidup mereka?"
Saya mengangguk,
"Lalu, mereka jadi tidak realistis, dong?" Guru itu terkikik geli,"itu seperti habis menegak ekstasi,"
"Setidaknya, itu tidak meracuni tubuh mereka," saya membela diri.
"Tapi meracuni jiwa mereka," Guru itu tergelak
Saya hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal ini.
"Baiklah, memang kadang kita berpikir dengan dapat mengendalikan orang lain, kita akan menggenggam dunia, semua mudah dan kita akan senang. Sebenarnya tidak. Kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita dapat melangkah bersama-sama orang-orang itu untuk meraih apa yang terbaik dari kita," Guru itu menatap muridnya satu persatu," yang dikendalikan itu bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri. Karena kita kadang terlalu lembek pada diri kita sendiri, terlalu memanjakan. Nah, ini yang menyulitkan kita dalam meraih kebahagiaan."
"Saya sih, lebih senang tidak punya ilmu sihir apa-apa," katanya seraya merapikan buku-bukunya,"lebih senang jadi guru bahasa Inggris."
Kami hanya mendengus sebal, tetapi dalam hati kami ada suatu kelegaan. Bahwa kami punya sedikit pencerahan.
"Bila kalian diberi kesempatan untuk memilih sebuah, hanya sebuah, kekuatan magis, kekuatan macam apa yang ingin kalian miliki?"
Seluruh civitas akademika dalam kelas itu pun mulai mengembangkan sayap-sayap imajinasi mereka..
"Saya ingin punya sentuhan cinta," kata seorang mahasiswi di pojok ruang ragu-ragu,"saya ingin setiap orang yang saya sentuh akan mencintai saya,"
"Lalu," selidik sang Guru.
"Sehingga dunia akan dipenuhi dengan rasa cinta dan tidak ada rasa benci dan permusuhan," ia mulai menemukan kepercayaandirinya.
Pak Guru tersenyum,
"Begitukah? Jadi kau beranggapan dengan sentuhan cinta, kau akan membuat kedamaian?"
Sang mahasiswi mengangguk mantap.
"Sekarang cobalah kau bayangkan ketika semua orang kau sentuh, lalu semua orang mencintaimu," Guru itu melipat lengannya, seolah berpikir keras,"semua orang tentu ingin memilikimu,"
Mahasiswi itu mengangguk pelan,"Semua orang akan berusaha untuk memperoleh saya dan.."
"Dan..." Guru kami mencoba mencari jawaban.
"Dan saya justru menciptakan peperangan dalam hal yang....konyol"
"Kalau begitu, saya ingin punya sentuhan rahasia saja," seorang karyawan asuransi di tengah ruang memecah keheningan.
"Sentuhan rahasia?"
"Ya, Sir. Saya bisa tahu rahasia orang-orang di sekitar saya," katanya pongah.
"Apa sih rahasia itu?" Guru bertanya
"Ya biasanya sih hal-hal yang tidak ingin diketahui orang lain,"
"Kenapa?"
Karyawan itu nyengir, " Biasanya itu adalah aib, Sir. Atau..kebencian pada kita,"
"Apa yang kau dapatkan dari tahu kebencian orang kepada kita?"
"Betapa saya akan menemukan kebencian juga pada kehidupan saya," jawabnya pelan.
Saya mencoba menjawab,
"Sir, saya ingin punya sentuhan bahagia,"
Guru itu menaikkan sebelah alisnya,
"Saya ingin bisa membuat semua orang bahagia, tanpa rasa sedih, bimbang, khawatir,"
"Sehingga mereka lupa akan beban hidup mereka?"
Saya mengangguk,
"Lalu, mereka jadi tidak realistis, dong?" Guru itu terkikik geli,"itu seperti habis menegak ekstasi,"
"Setidaknya, itu tidak meracuni tubuh mereka," saya membela diri.
"Tapi meracuni jiwa mereka," Guru itu tergelak
Saya hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal ini.
"Baiklah, memang kadang kita berpikir dengan dapat mengendalikan orang lain, kita akan menggenggam dunia, semua mudah dan kita akan senang. Sebenarnya tidak. Kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita dapat melangkah bersama-sama orang-orang itu untuk meraih apa yang terbaik dari kita," Guru itu menatap muridnya satu persatu," yang dikendalikan itu bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri. Karena kita kadang terlalu lembek pada diri kita sendiri, terlalu memanjakan. Nah, ini yang menyulitkan kita dalam meraih kebahagiaan."
"Saya sih, lebih senang tidak punya ilmu sihir apa-apa," katanya seraya merapikan buku-bukunya,"lebih senang jadi guru bahasa Inggris."
Kami hanya mendengus sebal, tetapi dalam hati kami ada suatu kelegaan. Bahwa kami punya sedikit pencerahan.
Rabu, 14 Juli 2010
Mangan Ora Mangan Kumpul
Pernah dengar istilah ini : Mangan Ora Mangan Kumpul?
Pernah berpikir apa maknanya? Pernah menimbang-nimbang apa faedahnya?
Dengan kenaifan full, banyak orang berpikir bahwa ini adalah konsep kesenangan yang mana tidak sejahtera bukan perkara toh ditanggung bersama-sama.
Begitu populernya pomeo ini hingga sastrawan handal sekaliber Umar Kayam menjadikannya judul kumpulan kolomnya.
Adakah kebahagian di sana? Bahwa kebahagiaan itu harus diberi tumbal sebuah kesedihan (ora mangan)? Begitu sederhanakah kehidupan di dunia ini bila kita berkumpul dengan orang-orang?
Biar pun perut lapar melilit, tubuh dingin menggigil bila berkumpul maka akan lupa semua itu.
Tidak. Leluhur dan sesepuh yang menguntai kalimat itu tidak sesempit itu dalam memandang hidup.
Mangan adalah representasi dari kaum berada yang cukup bahkan lebih dalam kehidupannya.
Ora mangan tentulah kebalikannya.
Jadi, kalau orang yang Mangan tadi dibaurkan dengan orang yang Ora Mangan, diharapkan mereka akan berbagi. Sehingga Ora Mangan jadi Mangan karena bergabung dengan orang yang Mangan.
Betapa kebahagiaan dapat diperoleh bila kita mengerti dan memahami.
Pernah berpikir apa maknanya? Pernah menimbang-nimbang apa faedahnya?
Dengan kenaifan full, banyak orang berpikir bahwa ini adalah konsep kesenangan yang mana tidak sejahtera bukan perkara toh ditanggung bersama-sama.
Begitu populernya pomeo ini hingga sastrawan handal sekaliber Umar Kayam menjadikannya judul kumpulan kolomnya.
Adakah kebahagian di sana? Bahwa kebahagiaan itu harus diberi tumbal sebuah kesedihan (ora mangan)? Begitu sederhanakah kehidupan di dunia ini bila kita berkumpul dengan orang-orang?
Biar pun perut lapar melilit, tubuh dingin menggigil bila berkumpul maka akan lupa semua itu.
Tidak. Leluhur dan sesepuh yang menguntai kalimat itu tidak sesempit itu dalam memandang hidup.
Mangan adalah representasi dari kaum berada yang cukup bahkan lebih dalam kehidupannya.
Ora mangan tentulah kebalikannya.
Jadi, kalau orang yang Mangan tadi dibaurkan dengan orang yang Ora Mangan, diharapkan mereka akan berbagi. Sehingga Ora Mangan jadi Mangan karena bergabung dengan orang yang Mangan.
Betapa kebahagiaan dapat diperoleh bila kita mengerti dan memahami.
Jumat, 09 Juli 2010
Earning of Happiness
Apalah arti sebuah kebahagiaan?
Ketika kita bisa memperoleh apa yang kita inginkan?Ketika keberuntungan senantiasa menghampiri kita? Atau ketika orang lain menderita? Uufff..begitu banyak definisi dari kebahagiaan, dan itu subyektif.
Tergantung bagaimana kreativitas, mentalitas, dan intregritas kita. Banyak akses menuju sebuah kata kebahagiaan. Kebahagiaan bukan selalu kesempurnaan dan kesempurnaan tidak selalu menimbulkan kebahagiaan.
Kebahagiaan bagi saya pribadi, adalah ketika saya menemukan hal-hal kecil yang ternyata bikin bahagia. "Wuah, jebul ngene wae yo seneng yo."
"Wah jebul ini membuat saya gembira"
"Jebul.."
Jebul-jebul yang gilir gumanti menyambangi saya inilah, yang kemudian membuat saya menemukan sebuah kebahagian. Bahwa dengan sebuah kebahagian kecil dapat mengundang kebahagiaan lain yang lebih akbar.
Ya, kebahagiaan itu ada kerena usaha untuk mencapainya.
Jika Anda bilang kebahagiaan saya adalah ketika saya bisa nongkrong, kongkow-kongkow tanpa kerjaan, malas-malasan dan sebagainya.
Hahaha, ya ya ya, itu bukan kebahagiaan, tapi PELARIAN.
Mangkir sejenak dari rutinitas harian, namun Anda tidak mendapat apa pun. Sekadar melepas lelah. Bukan sebuah konsep tujuan hidup untuk menyatu pada sebuah berkas yang disebut; BAHAGIA.
Ngudibungah adalah mengusahakan kebahagiaan. Melakukan hal-hal kecil yang bahagia dan membahagiakan. Amin.
Ketika kita bisa memperoleh apa yang kita inginkan?Ketika keberuntungan senantiasa menghampiri kita? Atau ketika orang lain menderita? Uufff..begitu banyak definisi dari kebahagiaan, dan itu subyektif.
Tergantung bagaimana kreativitas, mentalitas, dan intregritas kita. Banyak akses menuju sebuah kata kebahagiaan. Kebahagiaan bukan selalu kesempurnaan dan kesempurnaan tidak selalu menimbulkan kebahagiaan.
Kebahagiaan bagi saya pribadi, adalah ketika saya menemukan hal-hal kecil yang ternyata bikin bahagia. "Wuah, jebul ngene wae yo seneng yo."
"Wah jebul ini membuat saya gembira"
"Jebul.."
Jebul-jebul yang gilir gumanti menyambangi saya inilah, yang kemudian membuat saya menemukan sebuah kebahagian. Bahwa dengan sebuah kebahagian kecil dapat mengundang kebahagiaan lain yang lebih akbar.
Ya, kebahagiaan itu ada kerena usaha untuk mencapainya.
Jika Anda bilang kebahagiaan saya adalah ketika saya bisa nongkrong, kongkow-kongkow tanpa kerjaan, malas-malasan dan sebagainya.
Hahaha, ya ya ya, itu bukan kebahagiaan, tapi PELARIAN.
Mangkir sejenak dari rutinitas harian, namun Anda tidak mendapat apa pun. Sekadar melepas lelah. Bukan sebuah konsep tujuan hidup untuk menyatu pada sebuah berkas yang disebut; BAHAGIA.
Ngudibungah adalah mengusahakan kebahagiaan. Melakukan hal-hal kecil yang bahagia dan membahagiakan. Amin.
Langganan:
Komentar (Atom)