Senin, 11 Februari 2013

Masalah Kencing

Pernah dengar pomeo ini?

"Guru kencing berdiri, murid kencing berlari"

Apa yang terbayangkan di benak Anda sekalian?
Menurut guru saya jaman SD, keburukan yang ditunjukkan oleh guru atau orang tua akan menular ke murid atau anak dan bisa jadi lebih buruk.

Itulah mengapa, orang dewasa harus hati-hati dalam berbuat di hadapan anak-anak.

Tapi, seiring berjalannya waktu, saya jadi berpikir, ini bukan pomeo negatif.
Ini justru motivasi agar murid itu harus bisa lebih jago dari gurunya. Murid harus punya ilmu yang lebih dari gurunya. Baru itu dianggap sukses.

Susah loh kencing sambil lari-lari...kan bisa kemana-mana. Perlu skill yang tinggi. Kepercayaandiri yang kuat.
Itu cuman perumpamaan saja. Maknanya, sebagai murid, jangan puas dengan apa yang diberikan, harus bisa lebih menggali agar kedepannya lebih sukses. Harus lebih bekerja keras, mengasah rasa ingin tahu, banyak cari tahu, banyak mencoba dan tidak takut gagal.

 Itulah seharusnya mental generasi muda. Mental murid kencing berlari!

Jumat, 01 Februari 2013

Ijinkan Aku Wegah Sesaat Saja

"Kenapa kemarin tidak hadir di acara itu?"
"Ah. Males."
"Yah, itu sih bukan alasan."

"Kamu kenapa gak suka cabe? Alergi? Gak kuat pedes?"
"Enggak ada alergi, kuat pedes. Tapi  ya gak suka aja"

Pernah dengar, atau malah sering, atau malah mengalami sendiri?
Saya sering begitu.
Saya phobia sama kapas. Kenapa? Ya takut aja. Tidak ada alasan spesifik kenapa.

Terkadang memang begitu,
Tidak semua hal terjadi dengan alasan logis yang bisa diterima.
Seperti: Ya pengen aja. Males. Nggak suka aja. Wegah dll

Kalo dilihat-lihat, memang betul, itu semua bukan alasan. Terlalu sentimentil.
Tapi, menurut saya pribadi, itu alasan lho.
Manusia tidak selalu in a good mood 'kan? Adakalanya, sedang tidak ingin. Namun, sering juga merasa sangat-sangat excited, sehingga menginginkan hal-hal tertentu. Maka, ketika ditanya mengapa, kesulitan mendeskripsikannya.

Manusia punya dua kekuatan non fisik yakni logis dan psikologis. Artinya manusia mampu mengoprasikan sesuatu berdasarkan rasio atau akal sehat dan hati atau perasaan. Bukankah begitu?
Nah, berangkat dari itu semua, sebenarnya sah-sah saja irasional reasons muncul.

Sekalipun otak mampu berpikir, bila hati tidak berkehendak maka akan sulit. Sebab hati kaitannya dengan niat dan niat itu mempengaruhi kinerja.
Kalau hati sudah berkehendak, maka cara apa pun akan dilakukan. Rasio hanyalah jadi penunjang.

Ibu saya sering heran, melihat pola pikir saya. Ada beberapa kali saya tidak mengambil kesempatan yang terbentang di depan saya. Tidak seperti selayaknya.
Beliau makin gemes ketika saya menyebut alasan : Aku sedang tidak kepengen.
Ibu saya adalah orang yang kadang jalan gak pake rasa. Betul. Gak pake rasa capek, membuang jauh-jauh sentimen pribadi, seperti tidak pernah punya rasa ingin atau obsesi, dan tidak suka musik.
Itulah ibu saya, ajaib.

Bagaimana pun juga kita tetap harus bisa bijak. Kapan kita "menguja" perasaan kita dan kapan kita harus menepiskannya.Tidak baik juga terlalu mengumbar perasaan hati, dalam hal ini. Kita akan tumbuh menjadi pemalas, lambat dan sentimentil.

 Ijinkanlah diri untuk merasa wegah, tapi ingat sesekali saja ya..jangan keseringan.

Sabtu, 26 Januari 2013

My First English Poem


I don’t need a lover

I just need a leader, a captain for my family later

I need someone who corrects me when I am wrong and guides me all day long

I don’t want a super actor, I only hope a good father

I need a friend to share my life with

Educate and love the kids in spirit

Together build a home, stand still and face the storm

It’s not a sudden leisure, but a man who’s mature,

whose mind for the clear future and makes me always sure

A man who will say I’m with you, when I’m in blue.

 It’s not only a boy to be shown, yet a light to be owned

It’s someone who understands, gives me a hand until I can

Always tells the truth despite it hurt

Provides respect instead of neglect

Talks gently and listens carefully

Since he does care of my scare

Sings a song to make me so strong

Someone who keeps giving a smile, when I give up for a while

A guy to ask questions, a place of destination

I expect you as the clue to make all those come true.

Wherever you are, ‘though it is still so far

It isn’t a trouble, I will make it possible

I believe someday, you’d cheer up my day

Stands by me saying a vow, “I love you, sweet, I’m yours now”

On your hug I will lay, keep my faith throughout the way.

Cross the rain as a train, love is strong as a chain.

Darling, life is a voyage more than just passing the age.

Life my dream as esteem, enjoy it as an ice cream.

As it comes in my sleep, I will see and I will keep

Let it shine in a glory, feeling happy not to worry

Something that had been written, hope someday could be taken
May 18th, 2010

Selasa, 28 Februari 2012

Mellon Apa Maumu?

Saya baru saja belajar betapa semu yang namanya pertemanan itu. Ketika sama sama dibawah, butuh, teraniaya, begitu mudahnya sebuah pertemanan terbangun. Namun, ketika salah seorang berada di atas begitu mudahnya ia lupa, alpa dengan apa yang pernah diucapkan, ditorehkan, bersama temannya ketika berkubang dalam nista.
-________-

Sabtu, 28 Januari 2012

Makin Kaya Makin Gila

Apa yang mampu kita ingat bila kata "kaya" melintas?

Mobil-mobil mewah?

Uang melimpah?

Berbidang-bidang tanah?

Rumah megah ?

Hidup serba mudah dan gaya hidup yang "wah"?


Kita memang belum bisa berteriak lantang untuk persamaan sosial. Ditelan atau tidak, realita

stratifikasi sosial adalah pil pahit yang terus bergulir di masyarakat kita. Hanya saja, kemasannya yang berbeda. Jika dulu (atau mungkin hingga kini), pelapisan sosial terang-terangan dipublikasikan melalui, kasta, feodalisme, rasisme- kini diwakili oleh kondisi ekonomi dan jabatan.


Kaya, selama ini terjebak dalam parameter finansial. Tidak pandang personal, siapapun yang banyak uang dan dandan necis, ialah sang "the Have". Secara otomatis, mereka akan terkelompokkan ke dalam level tersendiri. Tidak peduli seperti apa perilaku mereka. Kaya ya kaya, entah yang kaya kayak apa.


Bisa beli apa saja, plesir kemana saja, makan hidangan apa saja. Sayangnya, terkadang tingkah polah serta pola pikirnya tidak lebih dari manifestasi kepandiran sosial.


Masalah sosial ini ternyata menarik perhatian seorang kolumnis populer, Samuel Mulia, untuk mengulasnya dalam "Mendadak Kaya". Samuel mengemasnya dalam sebuah parodi. Parodi, selain sebagai ciri khas kolumnis ini, merupakan karya sastra yang ramah dan mudah untuk untuk dicerna.


Kembali pada pokok bahasan. Kaya itu watak, kaya itu mind set. Mengukur kekayaan bukan dengan nominal, komunal, tetapi mental of personal. Sudah seharusnya, sterotype kaya itu diapresiasi dengan kaya juga. Artinya, kita harus kaya hati, kaya pikir, kaya pengalaman, ringkasnya : bijak.


Kaya bukan direngkuh dengan keangkuhan. Ia diraih dengan kekukuhan. Tidak akan tampak, kaya yang dibalut congkak.


Kalau boleh saya mengutip tulisan Samuel Mulia yang sempat disinggung sebelumnya :

Menjadi kaya itu bukan waktu untuk melampiaskan dendam masa lalu karena pernah tak punya apa-apa. Balas dendam karena dilecehkan oleh orang yang terlebih dahulu kaya atau yang nasibnya dari dulu memang kaya raya.


Materi menjadi semacam senjata pamungkas pemangkas perkara. Kehormatan, kepercayaan, kesenangan, kemudahan bisa dikecap bila ada syarat bernama materi. Maka dari itu, berlombalah kita dalam mengumpulkannya, hingga seolah tidak pernah cukup. Entah bagaimana caranya. Hanya demi tujuannya : pengakuan publik atau sekadar praja. Tidak heran kini mudah bagi kita menemukan orang kaya. Di kota atau di desa, entah pegawai entah pengusaha, baik tua maupun muda, bisa jejaka bisa duda, boleh gadis boleh janda, aneka rupa orang kaya.


Namun, awas, waspadalah! Kekayaan yang datang tiba-tiba bisa jadi sangat mengejutkan bila tanpa persiapan mental. Orang sosial bilang, shock culture atau culture lag. Kaget budaya, kere munggah mbale, orang kaya baru. Jika meminjam istilah Samuel tadi, ya gegar otak.


Perubahan drastis dari hidup pailit serba sulit lalu abakadabra......banyak duit. Inilah mengapa, kaya itu harus disikapi dengan bijak agar semakin kita kaya, kita tidak makin gila.

Jumat, 30 September 2011

Hedeuh hedeuh..Pak Dokter..hedeuh

Sudah dua minggu ini saya menderita penyakit rakyat yang biarpun sepele tapi bertele-tele. Pilek. Watuk. Wuah, sama sekali tidak menarik. Sentrak sentruk grak grek. Setiap detik yang berlalu adalah siksaan, setiap menit yan berjalan adalah penganiayaan, dan setiap jam yang bergulir adalah keputusasaan. Sedih. Tetapi tidak menyedihkan.

Petang ini, selepas sembahyang Maghrib, Ibu membawa paksa saya ke dokter. Sebenarnya, saya juga aras-arasen. Lha gimana? Hla wong cuman perkara umbel sama riyak saja kok ndadak ngenthek ke dokter. Tapi, Ibu saya punya alasan masuk akal yang membuat saya tidak bisa endha alias menghindar lagi :
"Senen ki kowe wis Mid, kepiye bisa konsen nek dilit-dilit ngelapi umbel, wotak-watuk kaya simbah-simbah,nganggu tanggane ngganggu awakmu dhewe"

Dan di sanalah saya duduk di ruang tunggu--yang lebih tepat disebut garasi dipasangi kursi. Masih pukul 6. Pasien baru-atau memang cuma- saya. Bahkan, tidak tampak tanda-tanda kehidupan. Kami menunggu kurang lebih 20 menit (clingak-clinguk bak maling ayam). Cukup bagi saya untuk mengamat-amati ruang tunggu praktik tersebut. Sederhana sih, sebuah etalase sarat aneka obat dipasang menghadap jalan. Aneka poster seperti: Narkoba..Cara Instan Penghancur Masa Depan; Waspada Demam Berdarah: 3M (Menguras, Mengubur, Menutup); Makanan Bergizi untuk Tumbuh Kembang Anak Bangsa.


Pukul 6 lewat, seorang mas-mas kurus berjaket hitam nongol. Ia masih mengenakan helm. Mendekat pada kami.
MM (mas-mas) : "Priksa ibu?" (masih pake helm)
Ibu : "Iya ini, anak saya,"
MM : "Maaf, ibu, silakan ditunggu dulu,"
Lalu, dengan tergopoh-gopoh ia menyiapkan segala sesuatunya--termasuk MEMASANGKAN televisi, agar kami terhibur maksudnya.
Seorang nenek turun dari becak, mengempit sebuah tas kecil.
Ibu : "Ya, soale ini dokter askes jadi pasiennya pancen wong tuwik-tuwik"
Aku: (ngelek ludah)
Ibu:"Tapi, ibu cocok karo dokter ini, wonge ki welcome"
Aku:(kethap-kethip+ndlongop)
Ibu:"Pokoke manut wae, sik penting mari'
Aku:(manthuk-manthuk+ndlongop)

Sesaat kemudian, muncul seorang om-om dengan jas putih, berkalung stetoskop, tetapi bercelana jeans dan kaos oblong gahol..

Saya pun dipanggil masuk (bersama om dokter tersebut). Kalo kuprediksi, usianya tidak lebih dari 33 tahunan..
OD (Om Dokter) :"Gimana, gimana dik..
Aku :"Batuk pak dokter, pilek"
OD :"Weleh..weleh, mesaake tenan, sudah brapa hari?"
Aku :"Ya dua minggunan lah, pak dokter"
OD :"Wuaduh..la kok suwe-suwe barang ki ngapa lho..mempertahankan kok mempertahankan batuk ckckck. Sini tak tensi"

Setelah ditensi, bincang-bincang pun berlanjut. Entah bagaimana awalnya sesi ini malah jadi sesi curhat pak dokter tersebut.

OD :"Saya tu dulu ndak pengen jadi dokter..saya dulu kepingin HI"
Aku:"Ohya to, pak dokter, saya juga kepingin HI"
OD :"Ya khaan, asik khaan ketoke,mulane. Aku tu malah ndaftar penerbang juga dulu, kepengen, eh taunya gak lolos..."
Aku:"Wah, tapi kan jadi dokter.."
OD: "Tapi nyeeeesel banget aku ndak bisa katut tu ya..MENYESALLLLL"
*entah kenapa kata "saya" berubah jadi "aku"
OD: "Lha, trus, sama mbahku putri itu aku suruh jadi dokter, lha di rumah nggak ada yang dokter kok dik. Ya gini deh jadinya, aku sing dadi KORBANNNN."
Aku:"Wah, ikhlas nggak ini pak dokter mriksanya"
OD:"Lho, ya eeekhlas lah. Lha dik sekar eklas nggak le sakit?"

Intinya, obrolan kami malah jadi kayak sama temen. Dan perlu dicatat, ini jenis teman yang heboh dan agak ngember..
Entah kenapa saya merasa lebih baik, bahkan sebelum meminum obatnya.


Selasa, 27 September 2011

Rakyat..oh rakyat

Memang pusing.
Ketika pada suatu masa kita ditempatkan dalam situasi dan kondisi yang sempit dan sulit.

Pernah suatu ketika, saya bertanya-tanya, bagaimana rasanya jadi Ibas Yudhoyono. Jadi anak pemimpin negeri, dikenal disana-sini, mau apa tinggal jentikkan jari.
Tetapi, saya tidak sampai hati, membayangkan bagaimana orang-orang seperti Ibas harus membangun mental baja menghadapi aneka badai yang menimpa bapaknya.
Bagaimanapun juga, selama masih ada rakyat, aparatur negara adalah sasaran cerca yang tiada tara.

Apa sih, segala sepak terjang yang dicanangkan pemerintah selalu jadi sumber masalah. Tanpa sadar, kita, rakyat jelata ini senang sekali nyacat negeri sendiri.

Jadi ingat, seorang sahabat yang 10 tahun lebih tua dari saya (serius) pernah berkata: Yang salah tu juga bukan mutlak pemerintahnya, kita tu ya yang terlalu demand, tapi gak ngaca, sejauh mana kemampuan kita. Sesuai gak sama kitanya.

Ya kadang kala, kita memang mudah bersikap aktif evaluatif. Tapi, kitang sering lupa, bagaimana seharusnya kita. Kita tidak paham dengan birokrasi yang ada. Memang lebih asik menghujat.