Selasa, 26 Maret 2013
Kamis, 21 Februari 2013
Esai Sosiologi jaman SMA (:
Kemajemukan
dalam Semangat Kebangsaan
Sekar Hayati
Pending
di khatulistiwa tanahku Indonesia..
Ribu
pulaunya ragam sukunya..
Satu jiwa
raganya..
Indonesia..Indonesia
Aku
bangga menjadi anak Indonesia!
Tahu potongan syair lagu di atas?Ya,
lirik sederhana yang diciptakan sang Maestro, A.T Mahmud, memang menggugah anak
Indonesia untuk berbangga akan tanah airnya. Bangga akan kekayaan alamnya,
bangga akan keberagamannya, dan bangga akan kesatuan jiwanya. Semangat
persatuan yang bergelora dalam perbedaan sengaja ditanamkan pada generasi muda
penerus bangsa.
Hidup di lingkungan yang majemuk
adalah suatu tantangan tersendiri bagi suatu bangsa. Latar belakang yang
beraneka turut menciptakan kultur-kultur hidup yang berbeda-beda. Kultur-kultur
yang berbeda ini kadang ditumpangi dengan kepentingan-kepentingan yang berlainan
dan tak jarang berlawanan.
Pada awalnya, menurut Dr. Nasikun,
keberagaman ini terbentuk akibat letak dan bentuk Indonesia yang berpulau-pulau
dan berjauh-jauhan. Kontak yang sulit terjadi antarpenduduk di beda area ini
menimbulkan pola-pola hidup yang berbeda, termasuk adat budaya. Kondisi ini
bahkan dapat menciptakan rasa tidak saling memiliki. Bagaimana tidak? Menyadari
keberadaan satu sama lain saja belum tentu. Selebihnya, faktor lokasi yang diapit
dua samudra membuka peluang bagi bangsa lain untuk masuk ke wilayah Nusantara
dan memberi pengaruh pada kehidupan masyarakat pribumi. Pengaruh itu mulai dari
yang sederhana sampai yang kompleks. Mulai dari cara berpakaian sampai
perkawinan. Seiring perjalanan waktu, keberagaman pun terbentuk dan terus
berkembang hingga detik ini. Spektrumnya pun meluas. Bukan hanya melulu tentang
suku, agama, etnis, kewilayahan, tetapi juga merambah ranah ideologi, opini,
politik, hingga orientasi ekonomi.
Lalu bagaimana bila kemajemukan ini
terjadi dalam suatu negara yang notabenenya harus bersatu? Tentu bukan perkara
remeh, mengingat perbedaan itu sangat riskan menuai konflik. Masih ingatkah
dengan beberapa kerusuhan antargolongan yang terjadi di beberapa wilayah di
tanah air? Belum lagi, muncul komunitas-komunitas ideologi tertentu yang ingin
merombak sistem pemerintahan kita saat ini. Malangnya, manuver-manuver yang
dilancarkan justru menimbulkan keresahan masyarakat.
Furnival yang pernah menganalisis
Indonesia pada era kolonial mengemukakan bahwa kemajemukan diindikasikan dengan
tidak adanya kesamaan visi (common will) antargolongan yang ada kala itu.
Bangsa Belanda menempatkan dirinya dalam koridor kepentingan pekerjaan semata.
Sementara warga keturunan asing hanya berjibaku dengan segmen-segmen
perekonomian. Kalangan Bumiputera sendiri hanya berkonsentrasi pada
kapasitasnya sebagai kalangan kasta bawah. Ketiga golongan, diungkapkan
Furnival, tetap mempertahankan pola pikir, tindakan dan rasa masing-masing. Hal
inilah kemudian yang menciptakan lingkungan tidak padu. Kalangan yang tidak saling
membaur dan “memenjarakan diri” dalam zona masing-masing inilah yang
menimbulkan keberagaman berkonflik.
Maka dari itu, untuk menyatukan
kalangan-kalangan tersebut, perlu dimunculkan suatu pengikat yang dapat
menghubungkan masing-masing elemen. Masih menurut Dr. Nasikun, pengikat itu
dapat berupa konsensus mengenai nilai-nilai kemasyarakatan yang mendasar.
Konsensus atau kesepakatan memang diperlukan untuk membangun sebuah lingkungan
masyarakat yang terintegrasi. Seperti kita ketahui bersama, kesamaan paham akan
suatu fenomena akan lebih mudah membawa individu-individu yang berbeda untuk
menyatu. Contoh mudahnya yang dekat dengan kehidupan kita adalah label
Padmanaba bagi siswa-siswi SMAN 3 Yogyakarta. Siswa-siswi dengan latar belakang
budaya, agama, etnis, bahkan ideologi yang berbeda dan cenderung mengelompok
ini dapat menjadi solid akibat pemahaman akan ke-Padmanaba-an ini. Ada semacam
kesepakatan mengenai apa-apa saja yang termasuk dalam kaidah ke-Padmanaba-an
itu, lalu diyakini dan diaplikasikan. Dalam bidang yang lain, memang
kemajemukan tidak terelakkan, tetapi menyangkut nilai yang sama maka kesatuan
akan terwujud.
Selain itu keberadaan cross-cutting affiliation yang kemudian
mendukung tumbuhnya cross-cutting
loyalities. Cross-cutting loyalities yakni loyalitas yang silang menyilang
antaranggota masyarakat terhadap kelompok-kelompok atau satuan-satuan sosial di
mana mereka menjadi anggotanya. Meskipun termasuk dalam suatu kelompok, tidak
menutup kemungkinan anggota tersebut juga termasuk dalam suatu komunitas lain.
Misalnya saja seorang pegawai negeri yang juga tergabung dalam komunitas sepeda
gembira. Maka, solidaritas yang terbentuk bukan hanya antarpegawai negeri,
tetapi juga antarpecinta sepeda yang datang dari berbagai kalangan ini.
Melalui kedua landasan tersebut dapat
disimpulkan bahwa kemajemukan suatu bangsa dapat terintegrasi. Indonesia dapat
menjadikan perbedaan yang terbentang justru dapat dijadikan pengikat yang kuat.
Apalagi Indonesia memiliki spirit kebangsaan Bhineka Tunggal Ika. Sekalipun
berbeda-beda tetaplah satu. Satu nusa, satu bangsa, satu rasa, dan satu cita.
Ribu pulaunya ragam sukunya
Satu jiwa raganya..
Sabtu, 16 Februari 2013
Tentang Lelaki dan Perempuan
Suatu hari teman saya datang kepada
saya- kami waktu itu ada sedikit kesalahpahaman- ia meminta maaf kepada saya.
“Sekar, aku sebagai laki-laki, aku minta maaf”
Saya pun berpikir, ngapain harus
menambahkan embel-embel saya laki-laki. Dalam konsep otak saya, permintaan maaf
tidak memandang perempuan atau laki-laki. Minta maaf ya minta maaf saja.
Laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama, bisa bikin salah dan
bisa disalahi. Dengan peluang dan kemungkinan yang sama ngapain dibedakan. Ini
kan bukan seperti bikin toilet, meskipun sama-sama bisa buang hajat tapi
biliknya dibedakan.
Belakangan saya baru paham, dia bilang demikian
karena waktu itu masih siang hari, jadi dia masih seorang laki-laki, kalau hari
sudah gelap mungkin intronya akan berbeda
“Sekar, aku sebagai....”
Minta
maaf dan memberi maaf merupakan hak dan kewajiban. Meminta maaf adalah hak sementara
memberi maaf adalah kewajiban. Maka, saling memaafkan tak ubahnya sebuah
transaksi ekonomi. Transaksi apa pun bentuknya, tidak dibatasi oleh gender.
Misal
ke pasar, namanya transakasi tidak memilih jenis kelamin, prosedurnya ya sama.
Masa iya:
“Jeruk sekilo berapaan?” (ibu-ibu)
“25, Bu,”
“Jeruk sekilo berapaan?” (bapak-bapak)
“35, Pak,”
“Jeruk sekilo berapaan?” (banci)
“Gak dijual”
Laki-laki
dan perempuan secara global sama saja. Bahkan di dalam rumah tanggapun sering
terjadi yang demikian. Bapak ibu sama-sama bekerja, sama-sama punya andil dalam
mengatur urusan keluarga. Bapak sebagai raja, tapi tetap saja ibu sebagai
perdana menteri. Ya, endingnya tampuk kekuasaan memang ada pada ibu
sih....setidaknya kan sama-sama pemimpin.
Tapi
saya heran, masyarakat kita ini memang suka membedakan bagian laki-laki dan
perempuan, sampai hal-hal yang sepele seperti masalah siapa yang punya hak
dagang makanan!
Sampai sekarang saya masih tidak paham
mengapa pedagang mi ayam, bakso, soto kebanyakan bapak-bapak. Di
pinggir-pinggir jalan yang lebih populer adalah bakso pak kumis, soto cak
parno, bakso pak narto dan sebagainya. Tidak ada yang pake bu atau mbak.
Mungkin efek doktrin dari lagu jaman anak-anak dulu: “Abang tukang bakso
mari-mari sini, saya mau beli..” Abang..bukan emak!
Sementara, penjual lotek, gado-gado, gudeg dan apa
pun yang pake nasi kebanyakan juga perempuan. Gudeg Yu Jum, gudeg Bu Citro, gado-gado
Yu Yem, nasi pecel Bu Wiryo. What’s wrong baby? Kenapa gak pake nama suaminya?
Padahal yang modalin suaminya...
Misal gudeg Pak Citro
“Pak beli gudeg”
“Hmmm.” (tampang horor)
“Arehnya 2 sendok”
“Hmmm,”
“Pake krecek tapi gak usah pake cabe, trus ayam
suwirnya dari pupu ya Pak, ohya ijo-ijoannya dikit aja. Nasinya separuh,
dipisah. Ditambahin telor separuh. Trus tempe seprem..huaaaaaaaaaa”
-----disiram areh mendidih-----
Ini
misteri yang fundamental.
*Ya kalau masalah kenapa penjual cilok harus mas-mas
alay polem dan kenapa bunyi-bunyian pedagang keliling beda-beda, siapa yang
ngatur, tidak akan dibahas di sini*
Masyarakat
juga tidak adil. Kalau perempuan merambah dunia yang didominasi para pria maka
akan dibanggakan, dijadikan contoh. Kalau perempuan jadi politisi, jadi polisi
disebutnya emansipasi. Tapi kenapa kalau laki-laki jadi tukang masak, tukang
rias, perancang busana dicuekin aja? Malah sebagian kaum ekstrimis langsung
memvonis kiamat sudah dekat. Apa bedanyaaaa???
Senin, 11 Februari 2013
Masalah Kencing
Pernah dengar pomeo ini?
"Guru kencing berdiri, murid kencing berlari"
Apa yang terbayangkan di benak Anda sekalian?
Menurut guru saya jaman SD, keburukan yang ditunjukkan oleh guru atau orang tua akan menular ke murid atau anak dan bisa jadi lebih buruk.
Itulah mengapa, orang dewasa harus hati-hati dalam berbuat di hadapan anak-anak.
Tapi, seiring berjalannya waktu, saya jadi berpikir, ini bukan pomeo negatif.
Ini justru motivasi agar murid itu harus bisa lebih jago dari gurunya. Murid harus punya ilmu yang lebih dari gurunya. Baru itu dianggap sukses.
Susah loh kencing sambil lari-lari...kan bisa kemana-mana. Perlu skill yang tinggi. Kepercayaandiri yang kuat.
Itu cuman perumpamaan saja. Maknanya, sebagai murid, jangan puas dengan apa yang diberikan, harus bisa lebih menggali agar kedepannya lebih sukses. Harus lebih bekerja keras, mengasah rasa ingin tahu, banyak cari tahu, banyak mencoba dan tidak takut gagal.
Itulah seharusnya mental generasi muda. Mental murid kencing berlari!
"Guru kencing berdiri, murid kencing berlari"
Apa yang terbayangkan di benak Anda sekalian?
Menurut guru saya jaman SD, keburukan yang ditunjukkan oleh guru atau orang tua akan menular ke murid atau anak dan bisa jadi lebih buruk.
Itulah mengapa, orang dewasa harus hati-hati dalam berbuat di hadapan anak-anak.
Tapi, seiring berjalannya waktu, saya jadi berpikir, ini bukan pomeo negatif.
Ini justru motivasi agar murid itu harus bisa lebih jago dari gurunya. Murid harus punya ilmu yang lebih dari gurunya. Baru itu dianggap sukses.
Susah loh kencing sambil lari-lari...kan bisa kemana-mana. Perlu skill yang tinggi. Kepercayaandiri yang kuat.
Itu cuman perumpamaan saja. Maknanya, sebagai murid, jangan puas dengan apa yang diberikan, harus bisa lebih menggali agar kedepannya lebih sukses. Harus lebih bekerja keras, mengasah rasa ingin tahu, banyak cari tahu, banyak mencoba dan tidak takut gagal.
Itulah seharusnya mental generasi muda. Mental murid kencing berlari!
Jumat, 01 Februari 2013
Ijinkan Aku Wegah Sesaat Saja
"Kenapa kemarin tidak hadir di acara itu?"
"Ah. Males."
"Yah, itu sih bukan alasan."
"Kamu kenapa gak suka cabe? Alergi? Gak kuat pedes?"
"Enggak ada alergi, kuat pedes. Tapi ya gak suka aja"
Pernah dengar, atau malah sering, atau malah mengalami sendiri?
Saya sering begitu.
Saya phobia sama kapas. Kenapa? Ya takut aja. Tidak ada alasan spesifik kenapa.
Terkadang memang begitu,
Tidak semua hal terjadi dengan alasan logis yang bisa diterima.
Seperti: Ya pengen aja. Males. Nggak suka aja. Wegah dll
Kalo dilihat-lihat, memang betul, itu semua bukan alasan. Terlalu sentimentil.
Tapi, menurut saya pribadi, itu alasan lho.
Manusia tidak selalu in a good mood 'kan? Adakalanya, sedang tidak ingin. Namun, sering juga merasa sangat-sangat excited, sehingga menginginkan hal-hal tertentu. Maka, ketika ditanya mengapa, kesulitan mendeskripsikannya.
Manusia punya dua kekuatan non fisik yakni logis dan psikologis. Artinya manusia mampu mengoprasikan sesuatu berdasarkan rasio atau akal sehat dan hati atau perasaan. Bukankah begitu?
Nah, berangkat dari itu semua, sebenarnya sah-sah saja irasional reasons muncul.
Sekalipun otak mampu berpikir, bila hati tidak berkehendak maka akan sulit. Sebab hati kaitannya dengan niat dan niat itu mempengaruhi kinerja.
Kalau hati sudah berkehendak, maka cara apa pun akan dilakukan. Rasio hanyalah jadi penunjang.
Ibu saya sering heran, melihat pola pikir saya. Ada beberapa kali saya tidak mengambil kesempatan yang terbentang di depan saya. Tidak seperti selayaknya.
Beliau makin gemes ketika saya menyebut alasan : Aku sedang tidak kepengen.
Ibu saya adalah orang yang kadang jalan gak pake rasa. Betul. Gak pake rasa capek, membuang jauh-jauh sentimen pribadi, seperti tidak pernah punya rasa ingin atau obsesi, dan tidak suka musik.
Itulah ibu saya, ajaib.
Bagaimana pun juga kita tetap harus bisa bijak. Kapan kita "menguja" perasaan kita dan kapan kita harus menepiskannya.Tidak baik juga terlalu mengumbar perasaan hati, dalam hal ini. Kita akan tumbuh menjadi pemalas, lambat dan sentimentil.
Ijinkanlah diri untuk merasa wegah, tapi ingat sesekali saja ya..jangan keseringan.
"Ah. Males."
"Yah, itu sih bukan alasan."
"Kamu kenapa gak suka cabe? Alergi? Gak kuat pedes?"
"Enggak ada alergi, kuat pedes. Tapi ya gak suka aja"
Pernah dengar, atau malah sering, atau malah mengalami sendiri?
Saya sering begitu.
Saya phobia sama kapas. Kenapa? Ya takut aja. Tidak ada alasan spesifik kenapa.
Terkadang memang begitu,
Tidak semua hal terjadi dengan alasan logis yang bisa diterima.
Seperti: Ya pengen aja. Males. Nggak suka aja. Wegah dll
Kalo dilihat-lihat, memang betul, itu semua bukan alasan. Terlalu sentimentil.
Tapi, menurut saya pribadi, itu alasan lho.
Manusia tidak selalu in a good mood 'kan? Adakalanya, sedang tidak ingin. Namun, sering juga merasa sangat-sangat excited, sehingga menginginkan hal-hal tertentu. Maka, ketika ditanya mengapa, kesulitan mendeskripsikannya.
Manusia punya dua kekuatan non fisik yakni logis dan psikologis. Artinya manusia mampu mengoprasikan sesuatu berdasarkan rasio atau akal sehat dan hati atau perasaan. Bukankah begitu?
Nah, berangkat dari itu semua, sebenarnya sah-sah saja irasional reasons muncul.
Sekalipun otak mampu berpikir, bila hati tidak berkehendak maka akan sulit. Sebab hati kaitannya dengan niat dan niat itu mempengaruhi kinerja.
Kalau hati sudah berkehendak, maka cara apa pun akan dilakukan. Rasio hanyalah jadi penunjang.
Ibu saya sering heran, melihat pola pikir saya. Ada beberapa kali saya tidak mengambil kesempatan yang terbentang di depan saya. Tidak seperti selayaknya.
Beliau makin gemes ketika saya menyebut alasan : Aku sedang tidak kepengen.
Ibu saya adalah orang yang kadang jalan gak pake rasa. Betul. Gak pake rasa capek, membuang jauh-jauh sentimen pribadi, seperti tidak pernah punya rasa ingin atau obsesi, dan tidak suka musik.
Itulah ibu saya, ajaib.
Bagaimana pun juga kita tetap harus bisa bijak. Kapan kita "menguja" perasaan kita dan kapan kita harus menepiskannya.Tidak baik juga terlalu mengumbar perasaan hati, dalam hal ini. Kita akan tumbuh menjadi pemalas, lambat dan sentimentil.
Ijinkanlah diri untuk merasa wegah, tapi ingat sesekali saja ya..jangan keseringan.
Sabtu, 26 Januari 2013
My First English Poem
I don’t need a lover
I just need a leader, a captain for my family
later
I need someone who corrects me when I am
wrong and guides me all day long
I don’t want a super actor, I only hope a
good father
I need a friend to share my life with
Educate and love the kids in spirit
Together build a home, stand still and face
the storm
It’s not a sudden leisure, but a man who’s
mature,
whose mind for the clear future and makes me always
sure
A man who will say I’m with you, when I’m in
blue.
It’s
not only a boy to be shown, yet a light to be owned
It’s someone who understands, gives me a hand
until I can
Always tells the truth despite it hurt
Provides respect instead of neglect
Talks gently and listens carefully
Since he does care of my scare
Sings a song to make me so strong
Someone who keeps giving a smile, when I give
up for a while
A guy to ask questions, a place of
destination
I expect you as the clue to make all those
come true.
Wherever you are, ‘though it is still so far
It isn’t a trouble, I will make it possible
I believe someday, you’d cheer up my day
Stands
by me saying a vow, “I love you, sweet, I’m yours now”
On your hug I will lay, keep my faith
throughout the way.
Cross the rain as a train, love is strong as a
chain.
Darling, life is a voyage more than just
passing the age.
Life my dream as esteem, enjoy it as an ice
cream.
As it comes in my sleep, I will see and I
will keep
Let it shine in a glory, feeling happy not to
worry
Something that had been written, hope someday
could be taken
May
18th, 2010
Selasa, 28 Februari 2012
Mellon Apa Maumu?
Saya baru saja belajar betapa semu yang namanya pertemanan itu. Ketika sama sama dibawah, butuh, teraniaya, begitu mudahnya sebuah pertemanan terbangun. Namun, ketika salah seorang berada di atas begitu mudahnya ia lupa, alpa dengan apa yang pernah diucapkan, ditorehkan, bersama temannya ketika berkubang dalam nista.
-________-
-________-
Langganan:
Postingan (Atom)